Rabu, 20 April 2011

hei......

setiap kali aku melewati jalan ini, aku selalu melihatnya duduk di bangku itu dengan biola dan kucing hitamnya yang tak pernah absen menemaninya. terkadang aku mendengar irama yang menyanyat hati dari gesekan biolanya tersebut, jadi bikin bukukudukku berdiri. tapi apa yang ia lakukan ditaman ini?lalu kenapa selalu di tempat yang sama? apa dia sedang menunggu seseorang? tapi siapa, apa pacarnya? mungkin saja, apalagi kalau dilihat dari raut mukanya benar-benar sayu.

aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi hampir tiga bulan ini aku selalu melihatnya. tatapannya begitu dingin, meskipun terkadang tersenyum padaku tapi senyum itu sama dinginnya dengan tatapannya. ia begitu berbeda, ia seperti sebongkah es yang terbalut tubuh manusia.begitu dingin.... tapi, entahlah.... justru wajah dingin itulah yang membuatku selalu ingin melewati jalan setapak itu. ya, hanya untuk melihatnya sepintas saja, memastikan apa ia asih di tempat itu, untuk hal yang tidak pernah kuketahui.

Seperti biasa setiap kali aku menyusuri jalan menuju taman ini, hatiku berdetak amat kencang. Kepalaku dipenuhi dengan begitu banyak tanda Tanya, apakah ia masih disana? Masihkah ia duduk dibangku itu? aku mencoba menghilangkan rasa penasaran itu, dengan memandangi rimbunnya pohon taman yang mulai kumasuki, sinar matahari pagi yang menembus diantara celah-celah dedaunan. Taman ini masih sepi, hanya ada beberapa orang disini, ada satu dua orang pasien yang sedang menikmati segarnya udara pagi. Taman ini berada diantara kampusku dan sebuah rumah sakit besar. Sehingga tak jarang tempat ini menjadi tujuan para pasien-pasien rumah sakit itu untuk menghilangkan kejenuhan mereka selama berada dalam rumah sakit itu. Saat melihat wajah pucat mereka yang semakin layu terkena sinar mentari pagi, aku hanya bisa menarik nafas. Aku sadar betapa beruntungnya aku karena Tuhan masih memberiku kesempatan yang berharga ini, memberiku kesehatan sehingga aku masih bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan. Kulihat bunga mawar putih yang mulai bermekaran, tanpa berpikir panjang aku langsung menghampiri bunga yang ditanam di sepanjang pinggiran jalan ini. Bunga itu begitu indah, dari tempatku berdiri dapat kucium aroma bunga itu, lalu kurasakan sesuatu yang lembut dikakiku. Seekor kucing hitam besar berada tepat disamping kakiku.
"hei, lucu sekali" kucing itu diam saja saat aku menggendong dan membelai bulunya yang lembut." Kok sendirian, mana pemilikmu?" kucing itu benar-benar lucu apalagi ia begitu penurut
" disini rupanya!” mendengar suara itu, kucing itu langsung melompat dan berlari kearah suara itu.
“ maaf, kalau kucing ini sudah mengganggumu.”lelaki itu tampak sungkan bicara kepadaku
“enggak kok, dia kucing yang lucu” Lelaki itu hanya tersenyum, senyuman yang sama dengan yang pernah kulihat sebelumnya. “sepertinya kucingmu suka sekali dengan bunga mawar” aku mencoba berbasa basi, meski aku tahu kata yang salah di waktu yang salah, mana ada kucing yang suka bunga yang ada kucing suka pindang
“entahlah....” lelaki itu berbalik tapi baru satu langkah ia berbalik lagi “terimakasih sudah menemukannya, kamu satu-satunya orang yang bisa menyentuhnya selain aku”. Lelaki itu berbalik lagi dan meninggalkanku begitu saja, tapi aku semakin ingin tahu lebih banyak, tanpa berpikir panjang kuputuskan untuk mengejarnya.”hei tunggu” lelaki itu seolah tak mendengar teriakanku, ia terus berjalan sampai dibangku itu, dan aku tetap mengejarnya.
“kenapa bangku ini?” seolah aku tak bisa menahan kata itu di tenggorokanku. Mendengar pertanyaanku lelaki itu hanya memandangku sekilas, bahkan ia tak mempersilahkan aku duduk, dengan membiarkan biolanya tetap tergeletak disampingnya.
“kenapa taman ini? Kenapa bangku ini?”” ia sama sekali tak mengacuhkan aku, ia memasang tali ke leher kucingnya dan mengikat ujung tali lainnya di pergelangan tangan kirinya
“sama sepertimu, kenapa setiap hari kamu selalu lewat jalan ini, padahal jaraknya lebih jauh jika dibandingkan kalau kamu lewat jalan raya itu.” tanpa sekalipun ia memandangku ia lalu mengambil biolanya dan menarik kucingnya untuk mengikutinya meninggalkan bangku itu dan berjalan keluar dari area taman ini. Dan aku hanya bisa memandang punggungnya yang semakin menjauhiku.

Sejak peristiwa itu, sudah dua hari ini aku tidak melihatnya duduk dibangku itu, ini adalah hari ketiga bila aku tak mendapatinya dibangku itu lagi. Kenapa tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Apa pertanyaanku telah menyinggung perasaannya. Lelaki macam apa dia, perasaannya begitu rapuh. Baru ditanya begitu aja sudah marah benar-benar orang yang aneh. Tapi kenapa aku jadi memikirkannya? Padahal jelas-jelas aku tidak mengenal laki-laki itu, jelas-jelas sikapnya padaku kemarin benar-benar dingin bahkan bisa dibilang sama sekali tidak menganggapku ada. Kenapa aku jadi kecewa ketika melihat bangku itu kosong lagi, tapi melihat bangku kosong itu mengusikku untuk mendekati dibangku itu. Aku penasaran kenapa ia selalu memilih bangku itu, apa baginya bangku itu punya kenangan tersendiri?. Memang saat aku duduk di bangku ini aku bisa melihat dengan jelas hampir seluruh bagian taman bisa dibilang ini tempat yang strategis untuk cuci mata, melihat hamparan rumput yang menghijau, memang pemandangan dari sini jauh lebih indah jika dibandingkan kalau aku duduk di bangku lain. Oh... pemandangan disini hampir saja membuat aku lupa dengan tujuan awalku. Aku berusaha mencari sesuatu yang membuat lelaki itu tak pernah meninggalkan tempat ini, tepatnya sebelum 3 hari ini. Bangku ini masih bersih dan mulus tak ada satu coretanpun, padahal aku berharap dia menulis sesuatu disini. Lelaki itu seolah tak berjejak sedikitpun, tapi justru semakin membuatku penasaran. Entah mengapa aku jadi merindukan irama yang menyayat hati itu, dan….juga wajah dingin itu.
“ kenapa duduk disini, bukannya berniat mengusirmu tapi bukankah kamu tahu kalau kamu tengah duduk ditempatku?”
“hah!?!” tiba-tiba lelaki itu sudah duduk disampingku, tapi kali ini ia sendiri tanpa biolanya, tanpa kucingnya. Aku merasa seperti maling yang tertangkap basah. “a a aku. . . hanya mencoba mencari jawaban” jawabku kaku, aku berusaha bersikap cuek untuk menutupi rasa maluku karena ketahuan.
“sudah ketemu?” seperti biasa ia selalu menganggap aku tak ada, ia hanya memandang jauh, entahlah aku sendiri tidak tahu apa yang ia lihat. Sekilas aku memandangnya, akupun mencoba memandang jauh kedepan, berusaha mencari apa yang sedang ia pandangi, apa ia sedang memperhatikan seseorang?, tapi aku hanya menemukan hamparan rumput hijau.
“apa kau percaya dengan kematian?” suara lelaki itu memecah keheningan.
“ya aku percaya” seolah aku terhipnotis dengan pertanyaannya.
“lantas jika kamu tahu suatu saat nanti pasti mati kenapa kamu masih berjuang seolah kamu akan hidup selamanya, padahal nantinya kamu juga mati dan semua yang kamu lakukan akan sia-sia”
“ justru kalau aku diam saja dan hanya menunggu kematianku, itu baru sia-sia. Sesingkat apapun hidupku nanti, aku ingin melakukan apa saja yang ingin aku lakukan. Aku tidak mau membuang waktuku sedetik saja, bila nanti aku mati aku tidak mau membawa penyesalan”
“apa kau takut menghadapinya?” Tanya lelaki itu datar
“kematian bisa datang kapan aja, aku takut saat waktu itu tiba aku belum bisa membahagiakan orang-orang yang aku sayangi, kau sendiri?”
“entahlah........”
“heh !?!” aku pikir ia akan bicara panjang lebar menerangkan filosofi hidupnya tapi melihat jawabannya yang datar dan ekspresinya yang sama datarnya dengan jawabannya yang keluar dari mulutnya membuat aku sedikit merasa “percuma saja aku bicara dengannya”
“sudahlah....” lelaki itu tersenyum padaku”apa kau mau menemaniku menikmati hari ini siapa tahu sebentar lagi kematian itu menghampiriku” aku tidak mengerti apa maksudnya ia berbicara seperti itu.” aku tidak memaksamu”lelaki itu bangkit dari duduknya
“ehm....bukan ide yang buruk” jawabku lirih dan segera menyusul laki-laki itu “oya kucingmu mana? namanya siapa? Kucingmu benar-benar lucu banget ya”
“dia hanya seekor kucing untuk apa memberinya nama”
“sayang sekali” meski dari tadi ia selalu mematahkan semangat bicaraku tapi aku semakin ingin bersamanya. Meski aku sama sekali tidak mengenal laki-laki ini.

Sebenarnya jika ia tersenyum ia manis juga sayang ia tidak mau melakukannya. Aku senang hari ini aku bisa melihatnya tersenyum, bahkan sesekali ia tertawa. Hal yang tak pernah aku jumpai sebelumnya
“terimakasih sudah menemaniku hari ini”aku mengangguk, mengiyakan ucapannya. Sejenak kami terdiam, tapi ada sesuatu yang membuatku penarasan.”e.....kenapa kamu tadi tiba-tiba bertanya tentang kematian?” tanyaku ragu-ragu, lelaki itu hanya menoleh sebentar padaku lalu tersenyum
“apa aku terlihat seperti orang putus asa yang sedang menghadapi kematian?”
“bubuukan, bukan, bukan begitu, mak..” belum selesai aku berkata lelaki itu langsung memotong
“aku sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bertanya hal seperti itu, tapi....satu per satu teman-temanku meninggalkanku, bisa aja sebentar lagi giliranku menyusul mereka bukan?” lelaki itu tersenyum lagi, kali ini senyumannya lebih lebar, es itu perlahan mulai mencair. Tapi kata-katanya membuat ku merinding, seharusnya aku tidak menanyakan hal itu,
“menyusul kemana? Memang temanmu kemana?”
“ehm... aku sendiri tidak tahu sekarang mereka ada dimana tapi aku yakin suatu saat nanti aku pasti menyusul mereka” aku bingung apa maksud pembicaraannya. Tapi sudahlah daripada aku semakin bingung lebih baik mengalihkan pembicaraan saja. Sepertinya meski wajahnya cukup manis tapi dia bukan orang yang tepat untuk diajak berdiskusi hal-hal yang serius. Dari tadi bicaranya tidak ada yang nyambung denganku.
“hei, apa aku boleh memanggil kucingmu shipo?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan
“kalau menurutmu binatang itu pantas memiliki nama, silahkan saja tapi jangan menyuruhku untuk memanggil nama binatang itu.” Lelaki itu melihat jam tangannya” sudah seharian kita disini, aku harus kembali. Terima kasih sudah menemaniku, sepertinya aku tak perlu membawa penyesalan jika sewaktu-waktu aku harus mati, seperti yang kamu katakan padaku “ Lelaki itu berjalan meninggalkanku
“ hei, aku flea, kamu siapa?” teriakku
“ aku sudah tahu” lelaki itu tak menoleh sedikitpun, ia hanya mengangkat tangan kanannya.
Meskipun aku pernah seharian bersamanya, melihatnya tertawa ketika ia melakukan kesalahan saat bermain di time zone. Ia benar-benar seperti anak kecil yang begitu penasaran dan mencoba semua permainan yang ada. Ekspresi ketika ia berhasil seperti ia tidak pernah melakukannya sebelumnya. Tapi aku tidak tahu siapa dia, bahkan namanya saja aku tidak tahu. Sudah dua minggu berlalu semenjak pertemuan itu, dan dia menghilang lagi. Siapa sebenarnya lelaki itu?.

Rumah sakit ini begitu besar, aku sudah menyusuri seperempat bagian dari gedung ini, tapi aku belum juga menemukan dimana temanku di rawat. Andai saja aku tidak ada ujian tadi pasti aku bisa bareng sama temen-temenku yang lain, dan aku tidak perlu berkeliling seperti ini.”shipo !?!, kenapa disini?” kucing itu hanya mengendus kakiku
“shipo, ternyata kamu disini, sepertinya kucing ini mengenal anda.” seorang perempuan berpakaian putih menghampiriku
“sebelumnya kami pernah bertemu” aku menggendong kucing itu hendak kuserahkan padanya
“oh anda saja, dia selalu menggigit orang yang menggendongnya”
“o.....dokter............e.............pemilik kucing ini..........e..................”
“Erzie?” dokter itu langsung menghela nafas saat kutanyakan keberadaan lelaki itu. Saat aku melihatnya, seperti biasa ia hanya diam, aku mencoba menyapanya “hei, lama tidak melihatmu” tapi seperti biasanya ia selalu mengacuhkan aku. Dia sama sekali tidak menghiraukan aku, membuatku tidak bisa lagi menahan air mataku. Lelaki itu hanya diam terbaring dalam balutan pakaian rumah sakit. Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya dipenuhi dengan selang yang tidak kutahu untuk apa. Matanya terpejam, kenapa saat aku menatapnya aku seolah melihatnya begitu lelah. Ingin sekali aku mengguncang keras tubuhnya agar ia terbangun dan tersenyum kepadaku.

Kini tak kan kudapati lagi tatapan dingin itu. Selama ini aku menganggap dia orang yang aneh, ternyata aku salah. Selama ini aku menganggap dia orang yang rapuh, ternyata itu salah. Dari dokter itu aku tahu, ERZIE ya erzie nama lelaki itu, sejak kecil erzie sudah tinggal di rumah sakit, menjalani pengobatan dari rumah sakit satu kerumah sakit lain, berharap akan ada donor untuk ginjalnya, tapi semuanya sia-sia. Tak ada ginjal yang cocok untuknya. Seharusnya aku menyadarinya saat ia menanyakan soal kematian itu padaku. Aku benar-benar bodoh telah menganggapnya aneh dan bodoh.
“apa anda tahu kenapa selama ini erzie selalu pergi ketaman itu?” aku menggelang, karena sampai sekarang aku belum juga menemukan jawaban itu
“ awalnya ia hanya merasa bosan disini, ia ingin melupakan kekecewaan demi kekecewaannya, tapi ia berubah pikiran. Ia bilang ada mahasiswi aneh yang lebih memilih jalan yang memutar, padahal ia tahu itu lebih jauh, gadis yang selalu menatapnya seolah ingin memakannya, yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Tapi membuatnya sadar untuk menghargai hidup, sesingkat apapun hidup itu” aku hanya terdiam, tak bisa mengucapkan sepatah katapun, hanya air mata yang tak kuasa ku bendung. Dokter itu memegang tanganku mencoba menguatkan aku.

end